Sebuah celengan atau tempat menyimpan uang, terbuat dari tanah liat (terakota) peninggalan Majapahit. Disebut “celengan” karena bentuknya menyerupai babi hutan. Hewan ini memiliki rantai besar di lehernya, yang dikunci dengan gembok bergaya Tiongkok. Benda ini berasal dari masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Celengan babi ini (iya, bentuknya memang mirip babi sungguhan!) adalah hasil kerajinan tangan yang ukurannya besar dan tampilannya menarik. Dibuat dari tanah liat berwarna abu-abu dengan sedikit warna merah, celengan ini terlihat penting dan sedikit garang—seperti babi hutan yang terkenal galak. Celengan ini bukan dibentuk secara asal! Sejak zaman dulu, babi dan babi hutan dianggap hewan spesial yang membawa keberuntungan, terutama terkait dengan rezeki dan banyaknya makanan. Bukan cuma di Tiongkok atau Asia Tenggara, melainkan juga di negara-negara Barat zaman dulu. Menurut beberapa peneliti, babi adalah salah satu hewan pertama yang dipakai untuk menggantikan manusia dalam upacara pengorbanan di zaman dulu. Celengan dari tanah liat berbentuk babi ini dipercaya menyimpan cerita tentang tradisi tersebut. Ternyata, celengan yang ada di Museum Kolong Tangga punya ukuran yang sama persis dengan celengan yang disimpan di Museum Etnologi di Leiden, Belanda. Celengan di Leiden kelihatan lebih rapi dan mewah—mungkin karena celengan di Museum Kolong Tangga dulu ditemukan dalam keadaan pecah. Sekarang, setelah diperbaiki dengan hati-hati dari pecahan aslinya, celengan ini bisa berdiri tegak lagi di atas empat kakinya yang pendek, dan terlihat keren seperti dulu.
Celengan Majapahit
Sebuah celengan atau tempat menyimpan uang, terbuat dari tanah liat (terakota) peninggalan Majapahit.